Ibu Fatmawati sang penjahit bendera pusaka

                   Di ambil dari google.com

Banggalah aku menjadi salah satu warga kota bengkulu dengan semua nilai sejarah yang indah, penuh cerita dan peninggalan-peninggalan yang tak dimiliki oleh kota lain. 
Tidak hanya itu bengkulu juga miliki banyak ciri khas serta budaya yang unik dan beraneka ragam . 
Sungguh bengkulu kau adalah ciptaan Tuhan yang patut di kagumi oleh semua mata yang memandang.  
Walaupun mungkin masih ada beberapa orang di bagian pulau jawa dan pulau-pulau lainnya yang belum mengetahui tentang bengkulu dan sejarahnya ,tentang bengkulu dan budayanya dan tentang bengkulu yang ramah akan penduduknya . 

Nah kali ini aku ingin tuliskan sosok istimewa,sosok yang patut kita kenang ,sosok yang berjasa dan penuh dengan inspirasi . 
Dia seorang perempuan tangguh yang mencetak nilai sejarah bagi indonesia . 
Dia berasal dari kota kecil di pulau sumatra. Dan dia adalah ibu Fatmawati sang penjahit bendera pusaka indonesia lambang negara tercinta ini. Ya merah putih.
Diambil dari google.com

Ibu Fatmawati beliau lahir pada hari Senin, 5 Pebruari 1923 Pukul 12.00 Siang di Kota Bengkulu. Nama Aslinya adalah Fatimah. Ia merupakan putri tunggal dari keluarga H. Hassan Din dan Siti Chadidjah.
Fatimah atau yang lebih dikenal dengan FatmawatiSoekarno, merupakan keturunan bangsawan dari Kerajaan Indrapura Mukomuko.
Fatmawati merupakan keturunan dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah yang mana kedua orangtuanya adalah keturunan Puti Indrapura atau biasa disebut seorang keluarga raja dari kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ayah Fatmawati juga terkenal sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Fatmawati dididik dan dibesarkan kedua orangtuanya di Bengkulu.
Fatmawati merupakan istri yang ketiga dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Pasangan Pemimpin Negara Indonesia tersebut dikaruniai lima orang putra dan putri, di antaranya adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan yang terakhir Guruh Soekarnoputra.

Sedikit informasi mengenai beografi  latar belakang ibu fatmawati. Namun kita mesti tahu juga bagaimana perjuangan serta peran beliau untuk indonesia . Bagaimana pula kisah-kisahnya tentang jahitan bendera merah putih itu . 

Awal Mula

Fatmawati menjahit Bendera Pusaka usai dirinya dan keluarga kembali dari pengasingan di Bengkulu dan tinggal di Jakarta.
Keberadaan Bendera Pusaka itu berawal dari rencana seorang perwira Jepang bernama Shimizu untuk memenuhi "janji kemerdekaan" dari Jepang bagi Indonesia.
Ia merupakan Kepala Bagian Propaganda Gunseikanbu atau pemerintah militer Jepang di Jawa dan Sumatera.

Shimizu memosisikan diri sebagai orang yang pro-Indonesia. Sikap pro-Indonesia Shimizu merupakan skenario yang ia mainkan sebagai kepala barisan propaganda.
Pasalnya, sejak awal 1943, kejayaan Jepang perlahan akan runtuh akibat tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Jepang memainkan politik "saudara tua" dengan Indonesia.
Sebagai "saudara tua", Jepang berjanji mengizinkan para pemimpin Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Janji kemerdekaan ini adalah taktik yang sengaja dimainkan Jepang guna meraih simpati dan dukungan rakyat Indonesia pada Perang Asia Timur Raya.
Shimizu pula orang dibalik rencana menyediakan rumah besar bagi Bung Karno yang telah diakui sebagai pemimpin Indonesia. Mobil sedan Buick dan pengemudi juga telah disiapkan untuk Bung Karno.

Saat Bung Karno berkunjung ke kantor Shimizu di Gunseikanbu (sekarang kantor pusat Pertamina di Jakarta Pusat), Shimizu menginstruksikan anak buahnya bernama Chaerul Basri untuk mencari rumah untuk “Orang Besar”. Sebutan itu mengacu pada sosok Bung Karno sendiri.
Kepada Chaerul, Bung Karno berharap dicarikan rumah dengan halaman yang luas.
“Agar saya bisa menerima rakyat banyak,” kata Bung Karno.
Chaerul pun melakukan pencarian dan menemukan rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Rumah itu yang menjadi tempat bagi Fatmawati menjahit bendera Merah Putih.
Permintaan Shimizu untuk membuat bendera Merah Putih itu sesuai dengan janji kemerdekaan yang ditawarkan pihak Jepang secara terbuka pada September 1944.
Waktu itu, sulit mendapatkan bahan kain untuk membuat bendera dengan ukuran yang besar. Rakyat saja menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan karung atau goni. Situasi itu disebabkan oleh kelangkaan tekstil.
Pada akhirnya Shimizu menginstruksikan seorang perwira Jepang mencari kain merah dan putih untuk diberikan ke Fatmawati.


Diambli dari google.com

Sang perwira yang ditugaskan, berhasil membawa dua kain merah dan putih dari bahan katun yang halus. Dua kain itu diperoleh dari sebuah gedung di Jalan Pintu Air, Jakarta Pusat dan diantarkan oleh Chaerul ke Pegangsaan.
Tetesan air mata Fatmawati merupakan ungkapan keharuannya atas perjuangan panjang rakyat Indonesia dan para pemimpinnya meraih kemerdekaan secara mandiri hingga tahap akhir.
Perjuangannya menjahit dua kain katun halus itu menunjukkan sumbangsih seorang perempuan Indonesia yang ikut memperjuangkan nasib bangsanya.
Fatmawati telah mengisi kepingan besar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bendera yang telah dijahit dengan susah payah dan tetesan air mata itu kini menjadi Bendera Pusaka sekaligus simbol nasionalisme yang selalu dibentangkan oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini dan ke depannya.

JAKARTA, KOMPAS.com - “Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kenang Fatmawati, istri Proklamator RI Soekarno.
Kenangan Fatmawati itu tercatat dalam buku berjudul " "Berkibarlah Benderaku, Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka" karya Bondan Winarno (2003).
Ungkapan tersebut dikarenakan Fatmawati sedang hamil tua dan sudah bulannya untuk melahirkan Guntur Soekarnoputra, putra sulung pasangan Bung Karno dan Fatmawati.
“Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah Putih,” kata Fatmawati.

                    Diambil dari google.com

Ia menghabiskan waktunya menjahit bendera besar itu di ruang makan dengan kondisi fisik yang cukup rentan.
“Jadi saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja. Sebab dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit,” katanya.
Fatmawati baru menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari.
Bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter yang akan dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, itu menjadi Bendera Pusaka hingga saat ini.

Wah luar biasa bukan ibu fatmawati dan cerita sejarahnya tentang bendera sang merah putih yang digunakan untuk hari proklamasi kemerdekaan indonesia . 
Dia lah ibu Fatmawati yang dia adalah orang bengkulu . 
Kita harus banyak belajar darinya terutama generasi milenial , jangan pernah lupakan sejarah .
Karena sejarah adalah hal yang tidak boleh di lupakan sebab itu adalah sebuah cerita yang nantinya akan kita ceritakan lagi untuk anak cucu kita kelak . 

Tulisan ini untuk menjawab tantangan nulis serempak blogger bengkulu





2 comments

  1. Bwngkulu kecil, kurang dikenal akan tetapi nilai sejarah sangat banyak bangga menjadi bagian dari bengkulu, keren mbak tulisannya

    ReplyDelete
  2. Ternyata kisah menjahit bendera merah putih sangat mengharukan ya. Luar biasa perjuangannya.

    ReplyDelete