Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan


Berbicara tentang hutan, dulu waktu SD aku mikir apa sih hutan pasti di dalam nya banyak hewan-hewan buas dan banyak jin nya hehe . Belum paham dan ngerti apa fungsi dari hutan? Dan apa sih kegunaan nya bagi manusia dan alam semesta ini . Namun semakin dewasa aku sekarang mengerti bagaimana pentingnya hutan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya seperti   menjaga keseimbangan iklim menjadi paru-paru dunia, menjaga keanekaragaman hayati, dan lain sebagainya.
Nah waktu SMA aku pernah ikut gotong royong tanam pohon atau penghijauan.  Apakah ini termasuk bagian dari melestarikan hutan melalui menanam pohon. Ya, aku rasa iya. 

Tapi sebenarnya Apa itu Adopsi Hutan?
Adopsi Hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya. Gerakan adopsi hutan adalah wujud kepedulian kita sebagai komunitas nonlingkungan. Kita beri memotivasi para penjaga hutan agar tak lelah menjalankan tugas dan perannya. Secara tak langsung, keterlibatan kita ini adalah ungkapan syukur atas apa yang telah diberikan hutan: air, oksigen, keaneragaman hayati, sumber pangan, ilmu pengetahuan, dan juga sosial budaya.

Oiya Tanggal 7 Agustus 2020 lalu, diperingati sebagai Hari hutan Indonesia. Dengan adanya Hari Hutan Indonesia, berarti akan ada 1 hari dimana semua mata, pikiran dan usaha masyarakat Indonesia tertuju pada hutan (hujan tropis) Indonesia. Hari Hutan Indonesia adalah hari dimana semua orang merayakan hutan hujan tropis Indonesia beserta semua kekayaan yang terkandung didalamnya.

Sasaran adopsi hutan
Saat ini, ada 4 lembaga masyarakat yang akan dibantu melalui adopsi hutan. Lembaga-lembaga ini aktif menyuarakan kepeduliannya atas hutan dan aktivitas makhluk hidup di sekitarnya. Mereka tersebar di beberapa provinsi di Indonesia, yaitu:
  1. Forum Konservasi Leuser dan Yayasan HAkA di Aceh;
  2. Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI di Sumatra Barat, Jambi, dan Bengkulu;
  3. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) di Kalimatan Barat;
  4. PROFAUNA Indonesia di Kalimantan Timur dan Jawa Timur.
Wohoo ada bengkulu guys, tempat tinggal saya nih.  Boleh nih kalo mau ikut berpartoisipasi.  
Meskipun hutan memang tak hanya pohon, tapi pohon adalah yang utama dan terbesar dalam ekosistem hutan.”


Gagasan Adopsi pohon, menjadi salah satu program untuk memeliharaan pohon melalui donasi yang kita berikan kepada lembaga dan masyarakat lokal (sekitar hutan) untuk memelihara pohon. 
Selain adopsi hutan, ada beberapa cara lain yang bisa kita lakukan untuk membantu pelestarian hutan di Indonesia. Setiap orang pasti bisa ikut serta melestarikan hutan, sesuai posisi dan kemampuan kita masing-masing. Tidak perlu menunggu punya uang dan kekuasaan untuk ikut berperan dalam perubahan konversi hutan Indonesia.  Apapun yang  kita lakukan untuk menjaga dan melestarikan hutan, memiliki nilai yang sangat penting. 

Adopsi Pohon, Jalan-jalan ke hutan, kemudian beranjut dengan cerita dari hutan hingga munculnya kesadaran untuk menjaga hutan, salah satunya dengan menggunakan produk hasil hutan bukan kayu. Semua kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye jaga hutan yang bisa kita lakukan secara langsung. 

Di era yang serba digital dan media social yang memiliki kekuatan viral luar biasa, dengan sentuhan kreatifitas yang khas diri kita masing-masing, maka serangkaian kegiatan jaga dan lindungi hutan bisa menarik perhatian public secara lebih luas dan lintas batas ( usia, gender, ras, status social) manakala kita menaikkannya ke channel akun social media. Bukankah salah satu keunikan era digital adalah sesuatu yang viral akan lebih mudah menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat. Jadi, kenapa kita yang mengaku generasi milenial dan kaum melek dunia digital, tidak menggunakannya media social untuk memviralkan kampanye jaga hutan ini ?

Apapun jenis Paltform social yang difavoritkan, mau sebagai selebram, youtuber, tik-tok’ers, Liker, podcaster, blogger, semua bisa digunakan untuk mengaungkan aksi nyata jaga dan lindungi hutan ini secara serentak, berkolabarsi, serta bersinergis.

Bahkan jika belum bisa ikut adopsi hutan, atau belum sempat jalan-jalan ke hutan karena akses yang masih terbatas akibat pandemi covid-19, tapi setidaknya kita masih punya kesempatan besar untuk ikut ambil peran dalam pelestarian hutan di Indonesia dengan kampanye semua hal yang terkait pelestarian hutan di Indonesia melalui akun media social.








No comments